Thursday, 11 February 2016

Paper Realisasi Kebijakan Sekolah Dalam Keningkatkan Keaktifan Siswa

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Sudah sangat berfariasi bahwa sanya di awal tahun pelajaran baru tahun 2015 ini pihak sekolah memberikan sebuah kebijakan untuk mengrevitalisasi keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar, contoh kecilnya saja, seperti halnya siswa/I wajib memakai seragam sesuai dengan jadwal sebagaimana tertempel di media papan informasi. Namun semua itu hanya menjadi hiasan saja bagi pelajar.
Kenapa demikian?
Dimana letak kendala akan suatu kebijakan ini?
Bagaimana implementasi di MA Arrahmah akan kebijakan tersebut?
Tentu korelasinya di riel lapangan bahwa masih banyak siswa yang bolos sekolah tanpa alasan yang jelas, naiknya harga administrasi surat izin tidak menjadi kendala bagi mereka-mereka yang tidak aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Perlu adanya pembenahan ulang bagi manajmen terhadap kebijakan yang akan dikeluarkan dalam rangka meningkatkan keaktifan siswa di dalam proses kegiatan belajar mengajar sehingga dapat mencetak siswa yang ber-akhlakul karimah berkeilmuan yang luas beriman takwa, sebagaimana menjadi Mars LPI. Arrahmah ini.

B.     Rumusan Masalah
Dari apa yang telah di jabarkan penulis dapat mengambil rumusan masalah yang terjadi pada latar belakang.
1.    Apa kendala kendala pihak lembaga terhadap meningkatkan keaktifan siswa di MA Arrahmah pada tahun pelajaran 2015-2016?
2.    Bagaimana revitalisasi kebijakan sekolah dalam meningkatkan keaktifan siswa di MA Arrahmah pada tahun pelajaran 2015-2016?
C.    Tujuan Penelitian
1.      Untuk mengatahui revitalisasi kebijakan sekolah dalam meningkatkan keaktifan siswa di MA Arrahmah pada tahun pelajaran 2015-2016.
2.      Untuk mengatahui kendala kendala pihak lembaga terhadap meningkatkan keaktifan siswa di MA Arrahmah pada tahun pelajaran 2015-2016.

D.    Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat, baik secara teoritis sebagai sebuah khazanah intelektual, maupun secara praktis kepada berbagai pihak yang selama ini punya perhatian kuat terhadap dunia pendidikan, baik pendidikan sekolah, madrasah, maupun pendidikan pesantren yang merupakan  sintesis dalam menghasilkan out come yang efektif.
Pihak tersebut meliputi pemerintah, instansi terkait, pengelola atau manajer pendidikan, siswa-siswa, orang tua, masyarakat, dan stake holder, sekolah-sekolah lain, serta lembaga pendidikan yang bersangkutan.
a.     Manfaat teoritis untuk khazanah intelektual, diharapkan penelitian ini menjadi sebuah sumbangsih gagasan dan tawaran solusi terhadap persoalan pendidikan yang selama ini mengalami berbagai masalah krusial menyangkut peningkatan mutu pendidikan, terutama dari aspek manajemen dan peningkatan kualitas lulusan. Juga agar konsep dan gagasan yang dihasilkan dari penelitian ini mampu menjadi sebuah wacana konseptul yang layak untuk didiskusikan dan dipraktekkan dalam pengelolaan dan pengembangan manajemen pendidikan ke depan.
b.    Manfaat praktis kepada pihak-pihak tekait, meliputi:
1.      Pemerintah, sebagai bahan masukan, informasi, dan pertimbangan pemikiran, khususnya terhadap Departemen Pendidikan Nasional yang selama ini terus berbenah diri mencari formulasi manajemen pendidikan demi meningkatkan mutu pendidikan nasional.
2.      Pengelola atau manajer pendidikan, sebagai refleksi edukatif bahwa manajemen dan sistem pendidikan berbasis nilai-nilai pesantren memiliki keunggulan kompetitif dan daya saing yang kuat (center for excellences), sehingga sistem dan manajemen pendidikannya dapat dijadikan contoh, pijakan dan landasan pengelolaan pendidikan-pendidikan lain di luar lembaga, kapanpun dan dimanapun.
3.      Bagi para siswa  agar supaya tidak ragu untuk masuk dunia pendidikan yang selama ini di-stigma-kan konservatif dan tradisional, sehingga siswa-siswa disekolah tidak inferior, minder, inkonfiden, inklusif, puritan, independen, dan serba a priori terhadap perkembangan pendidikan. Sebab, masih banyak lembaga pendidikan yang maju dan mempunyai nilai-nilai yang layak dicontoh, dibanggakan, diunggulkan, dan dikembangkan yang tidak pernah dimiliki oleh pendidikan-pendidikan di luar lembaga atau sekolah.
4.      Orang tua dan masyarakat, bermanfaat untuk menyadarkan dan menggugah sisi psikologis-emosional mereka agar supaya tidak ragu untuk menyekolahkan dan memasukkan putra-puterinya ke lembaga pendidikan, sebab nilai-nilai pendidikan di dalamnya mampu menciptakan siswa-siswa yang brilian, cerdas, dan produktif seperti halnya pendidikan-pendidikan lain.
Lembaga-lembaga lain, sebagai informasi dan sumbangsih pemikiran untuk dapat menjadikan MA. Arrahmah Jaddung Pragaan Sumenep sebagai rujukan dan contoh ideal dalam mengelola dan mengembangkan pendidikan.

E.     Metode Penelitian
1.      Pendekatan dan Jenis Penelitian
Fokus penelitian ini adalah Analisis Kebijakan Sekolah Untuk Meningkatkan Keaktifan Siswa Dalam Belajar Di MA. Arrahmah. Sasaran yang hendak dicapai adalah untuk memahami dan memaknai sistem kebijakan sekolah untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar di lembaga terkait.
Oleh karena itu, berdasarkan kajian teori dan kerangka pemikiran yang telah dipaparkan, maka jenis penelitian yang dianggap tepat adalah penelitian kualitatif naturalistik. Penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriftif berupa kata-kata dan simbol-simbol bahasa tertulis dan lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati, serta mampu memproleh informasi/data-data yang akurat terhadap fenomena tertentu. Adapun metode pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif analitis kritis.
Melalui pendekatan kualitatif diharapkan diperoleh pemahaman dan penafsiran yang mendalam mengenai makna dari fakta yang relevan. Pendekatan kualitatif pada dasarnya berusaha untuk mendeskripsikan permasalahan secara komprehensif, holistik, integratif, dan mendalam melalui kegiatan mengamati orang dalam lingkungannya dan berinteraksi dengan mereka tentang dunia sekitarnya. Penelitian dilakukan dalam situasi yang wajar (natural setting) oleh peneliti, di mana ia harus terjun ke lapangan dalam jangka waktu yang cukup lama.
Sebagaimana dikutip oleh Noeng Muhadjir (2002: 148-151) mengemukakan adanya empat belas alasan menggunakan metode naturalistik kualitatif, antara lain: Pertama, konteks natural, yaitu suatu konteks kebulatan menyeluruh yang tidak akan difahami dengan membuat isolasi atau eliminasi sehingga terlepas dari konteksnya. Kedua, instrumen human, sifat naturalistik menuntut agar diri sendiri atau manusia lain menjadi instrumen pengumpul data atas kemampuan menyesuaikan diri dengan berbagai ragam realitas. Ketiga, pemanfaatan pengetahuan tak terkatakan dengan memungkinkan mengangkat hal-hal yang diekspresikan. Keempat, sifat naturalistik lebih memilih metode kualitatif karena lebih mampu mengungkap realita ganda, lebih sensitif, dan adaptif terhadap peran berbagai pengaruh timbal balik. Kelima, pengambilan sampel secara purposive, dengan menghindari pengambilan sampel acak yang menekan kemungkinan munculnya lapangan menyimpang. Keenam, sifat naturalistik lebih menyukai analisis data induktif karena dengan cara tersebut konteksnya akan lebih mudah dideskripsikan. Ketujuh,  grounded theory. Sifat naturalistik lebih mengarahkan penyusunan teori (yang lebih mendasar) diangkat dari empiri, bukan dibangun secara a priori. Kedelapan, sifat naturalistik cenderung memilih penyusunan 'desain sementara' daripada mengkonstruksikan secara a priori. Kesembilan, sifat naturalistik cenderung menyepakatkan makna dan tafsir atas data yang diperoleh dengan sumbernya. Kesepuluh, lebih menyukai modus laporan studi lapangan, karena dengan modus ini deskripsi realitas ganda yang tampil dari interaksi peneliti dengan responden dapat terhindar dari bias. Kesebelas, mengarah ke penafsiran data (termasuk penarikan kesimpulan) secara idiographik bukan ke nomothetik. Keduabelas, cenderung lebih menyukai aplikasi tentatif daripada aplikasi yang meluas atas hasil temuannya. Ketigabelas, ikatan konteks terfokus.  Sifat naturalistik menuntut pendekatan holistik, kebulatan keseluruhan, ditelaah dengan mengaksentuasikan pada fokus sesuai dengan masalahnya, evaluasinya atau tugas yang hendak dicapai. Keempatbelas, Sifat naturalistik mencari kriteria kepercayaan yang sesuai dengan penelitian naturalistik.
Secara spesifik penelitian ini menggunakan desain studi lapangan (case study). Penelitian studi lapangan merupakan suatu penelitian yang dilakukan terhadap suatu “kesatuan sistem”. Kesatuan ini dapat berupa program, kegiatan, peristiwa, atau sekelompok individu yang terikat oleh tempat, waktu, atau ikatan tertentu. Pengertian studi lapangan adalah penelitian yang diarahkan untuk menghimpun data, mengambil makna, memperoleh pemahaman dari lapangan tersebut (Nana Syaodih Sukmadinata, 2005: 64). Lapangan sama sekali tidak mewakili populasi dan tidak dimaksudkan untuk memperoleh kesimpulan dari populasi. Kesimpulan studi lapangan hanya berlaku untuk lapangan tersebut. Tiap lapangan bersifat unik atau memiliki keistimewaan karateristik tersendiri yang berbeda dengan lapangan lainnya. Hal ini pulalah yang juga akan diungkap secara utuh dalam penelitian ini.
Suatu lapangan dapat terdiri atas satu atau lebih dari satu unit, tetapi merupakan satu kesatuan. Lapangan dapat terdiri dari satu orang, satu kelas, satu sekolah, beberapa sekolah tetapi dalam satu kantor kecamatan, dan sebagainya. Dalam studi lapangan digunakan beberapa teknik pengumpulan data seperti wawancara, observasi, dan studi dokumenter, tetapi semuanya difokuskan ke arah mendapatkan kesatuan data dan kesimpulan.
Dengan demikian, untuk memahami respon dan perilaku yang berkaitan dengan pengolahan sistem pendidikan berbasis nilai-nilai pesantren perlu pengamatan mendalam dan penghayatan terhadap gejala yang menjadi fokus penelitian. Oleh karena itu, kehadiran peneliti dalam setting penelitian, keterlibatan peneliti dalam proses merupakan tuntutan agar bisa memahami dan mengungkap manajemen mutu MA Arrahmah antara harapan dan tantangan (studi lapangan di MA. Arrahmah Jaddung Pragaan Sumenep)

a.      Locus Penelitian (Setting Tempat Dan Waktu Penelitian)
Penelitian tentang analisis kebijakan sekolah untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar di MA. Arrahmah. Khususnya, yang merupakan salah satu lembaga pendidikan yang dikelola oleh Yayasan Arrahmah, dengan beberapa pertimbangan sebagai berikut:
a.         MA. Arrahmah  merupakan lembaga pendidikan yang di buka pada tanggal 24 Juli 2003. Sekolah  ini merupakan lembaga independen dan netral yang berbentuk dan berjiwa pesantren yang bergerak dalam lapangan pendidikan dan kaderisasi, dengan mengembangkan sistem-sistem inovatif, tetapi tetap berakar dan berlandaskan pada nilai-nilai religi  dan berwawasan IT.
b.         Selain itu, MA. Arrahmah mengelola program studi yang berada di bawah naungan Kementrian Agama (Kemennag) yaitu Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang di buka seiring berdirinya sekolah yaitu tahun 2003.
Sedangkan waktu penelitian dilaksanakan mulai bulan Maret 2013.
b.      Focus Penelitian
Definisi istilah atau definisi orasional diperlukan untuk menghindari perbedaan pengertian atau kekurangjelasan makna. Istilah yang perlu dijelaskan adalah istilah-istilah  yang berhubungan dengan konsep-konsep pokok yang terdapat dalam paper . sedangkan istilah yang perlu dijelaskan adalah sebagai berikut :
1.      Kata manajemen berasal dari bahasa Latin, yaitu dari asal kata manus  yang berarti tangan dan agere yang berarti melakukan. Kata-kata itu kemudian digabung menjadi kata kerja managere yang artinya menangani. Managere diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dalam bentuk kata kerja to manage, dengan kata benda management, dan manager untuk orang yang melakukan kegiatan manajemen. Akhirnya, management diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi manajemen atau pengelolaan (Husaini Usman, 2006: 3).
Dalam Webster’s New Colegiate Dictionary, sebagaimana dikutip oleh Syamsudduha (2004: 15) disebutkan bahwa kata manajemen berasal dari kata to manage yang berasal dari bahasa Itali “managgio” dari kata “managgiare”  yang  diambil  dari bahasa latin  manus  yang  berarti  tangan (hand). Kata manage dalam kamus tersebut diberi arti: 1) to dorect and control (membimbing dan mengawasi), 2) to treat with care (memperlakukan dengan seksama), 3) to carry on business or affair (mengurus perniagaan, atau urusan-urusan/persoalan-persoalan), 4) to achieve one’s purpose (mencapai tujuan tertentu).
2.      Banyak ahli yang mengemukakan tentang mutu, seperti yang dikemukakan oleh Edward Sallis (2006 : 33 ) mutu adalah Sebuah filsosofis dan metodologis yang membantu institusi untuk merencanakan  perubahan  dan  mengatur  agenda dalam menghadapi  tekanan-tekanan  eksternal  yang  berlebihan.  Sudarwan Danim (2007 : 53 ) mutu mengandung makna derajat keunggulan suatu poduk atau hasil kerja, baik berupa barang dan jasa. Sedangkan dalam dunia pendidikan barang dan jasa itu bermakna dapat dilihat dan tidak dapat dilihat, tetapi dan dapat dirasakan.  Sedangkan  Kamus  Besar  Bahasa Indonesia (1991 :677 )  menyatakan  Mutu  adalah  (ukuran ), baik  buruk suatu benda taraf  atau derajat (kepandaian, kecerdasan, dsb) kualitas. Selanjutnya Lalu Sumayang ( 2003 : 322) menyatakan  quality (mutu )  adalah  tingkat dimana rancangan spesifikasi sebuah produk barang  dan  jasa  sesuai dengan fungsi dan penggunannya, disamping  itu  quality  adalah  tingkat di mana sebuah produk barang dan jasa sesuai dengan rancangan spesifikasinya.
Berdasarkan pendapat ahli di atas, dapat disimpulan bahwa mutu (quality) adalah sebuah  filsosofis  dan  metodologis, tentang (ukuran ) dan tingkat baik buruk suatu benda, yang membantu institusi untuk merencanakan perubahan dan mengatur agenda rancangan spesifikasi sebuah produk barang dan jasa sesuai dengan fungsi dan penggunannya agenda dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal yang berlebihan.

2.  Instrumen Penelitian
Dalam penelitian kualitatif naturalistik, instrumen pengumpul data yang paling utama adalah diri peneliti sendiri (human instrument). Sebab tidak ada pilihan lain dari pada menjadikan manusia sebagai instrumen penelitian. Peneliti adalah “key instrument”. (Nasution, 1988: 9 dan 55). Kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif cukup rumit. Ia sekaligus merupakan perencana, pelaksana pengumpul data, analis, penafsir data, dan pada akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitiannya. Di samping itu, manusia sebagai alat sajalah yang dapat berhubungan dengan responden atau objek lainnya. Sebab manusia sebagai instrumen, ia lebih responsif, dapat menyesuaikan diri, menekankan keutuhan, mendasarkan diri atas perluasan ilmu pengetahuan, memproses data secepatnya, memanfaatkan kesempatan untuk mengklarifikasikan dan mengikhtisarkan dan memanfaatkan kesempatan untuk mencari respon yang tidak lazim dan idiosinkratik (Moleong, 2004: 169-172).
Dalam upaya mendapatkan, menggali serta mengumpulkan data-data yang diperlukan dalam proses penyajian dan analisa data yang akurat maka penulis menggunakan metode yaitu:
a.      Metode Observasi
Menurut Syarqawi (1997:45), mengemukakan bahwa metode observasi adalah "salah satu instrumen penelitian yang berguna untuk mengumpulkan data dengan menggunakan kekuatan pengamatan".
Dengan metode observasi penulis dapat melihat langsung fenomina-fenomina yang ada kaitannya dengan penelitian ini.
Menurut Margono, observasi adalah pngamatan dengan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian.[1]
Obsevasi ini digunakan oleh peneliti dimaksudkan untuk dijadikan pelengkap dalam penyempurnaan penelitian, karena dengan metode ini peneliti bisa mengetahui secara langsung dan seksama gejala yang muncul sesuai dengan permasalahan. dalam hal ini observasi yang peneliti gunakan adalah observasi sistematis, yang sebelumnya peneliti menyiapkan pedoman observasi sesuai dengan yang dibutuhkan.
Observasi merupakan salah satu cara pengumpulan data yang mempunyai tujuan untuk mengumpulkan bahan, mengenal aspek tingkah laku manusia, mengenal gejala alami atau mengenal proses perubahan suatu hal yang nampak dilakukan dengan cara melihat, mencatat dalam tarap tertentu melaksanakan aktifitas yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti yaitu manajemen mutu MA Arrahmah antara harapan dan tangtangan (studi lapangan di MA. Arrahmah Jaddung Pragaan Sumenep).

b.      Metode Interview atau Wawancara
Metode interview adalah salah satu jenis alat pengumpul data yang menggunakan tanya jawab secara lansung.[2]
Dalam metode interview ini obyektifitas jawaban dengan mudah diketahui, mengingat peneliti mendapatkan langsung informasi  dari responden.
Mengenai jenis interview yang digunkan  dalam penelitian ini adalah interview bebas, artinya peneliti memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada responden  dengan tetap mengarah pertanyaan tersebut agar tidak melenceng dari apa yang diharapkan.
Interview ini dipergunakan untuk melengkapi data yang di peroleh dari hasil dukumentasi disamping kebenaran dan kevalidan data  tersebut.
Dalam hal ini pewawancara menanyakan segala sesuatu yang berhubungan dengan tujuan penelitian, sedangkan pihak yang diwawancarai hanya bertugas untuk menjawab segala pertanyaan yang diajukan. Dengan demikian pewawancara dapat menagtahui dan mengecek kejujuran yang diwawancarai dalam memberikan jawaban dan penjelasan.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode interview bebas, yang diwawancarai masih diberi kesempatan untuk memberikan jawaban yang lain sehingga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan leluasa.
Metode ini digunakan untuk memperoleh data secara langsung tentang Analisis Kebijakan Sekolah Untuk Meningkatkan Keaktifan Siswa Dalam Belajar Di MA. Arrahmah.

c.       Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah " Mencari data mengenai hal-hal atau vareabel yang berupa catatan, traskip, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, rapat, leger, agenda dan sebagainya".[3]
Dalam metode ini peneliti memegang check list (menandai) untuk mencatat variabel yang sudah ditentukan, dengan demikian  maka jelaslah bahwa metode dokumentasi berisi cara pengumpulan data yang sudah tersedia  dalam bentuk dokumentasi. Data dalam penelitian naturalistik kebanyakan diperoleh dari sumber manusia atau human resources, melalui observasi dan wawancara. Tetapi ada pula sumber bukan manusia, non human resources di antaranya dokumen, foto, dan bahan statistik. Keuntungan dari dokumen atau bahan dari tulisan antara lain ialah bahan tersebut telah ada, telah tersedia, dan siap pakai. Banyak dari bahan ini yang berguna bagi penelitian yang dijalankan asalkan bisa dianalisis dengan cermat dan tajam. Fungsinya sebagai pendukung dan pelengkap bagi data primer yang diperoleh melalui observasi dan wawancara.
Metode dokumentasi ini digunakan untuk memperoleh data tentang Madrasah Aliyah Arrahmah baik dari segi jumlah, biodata, struktur dan lain-lain. Yang kesemuanya itu menunjang terhadap proses penelitian ini.
Metode ini merupakan metode pendukung atau penyempurna dari metode-metode yang digunakan dalam penelitian ini. Metode ini dimaksudkan untuk memperoleh data-data yang bersifat dokumentasi, seperti kondisi madrasah, mencakup personalia madrasah, data jumlah guru dan siswa dan hal-hal lain yang dapat mendukung kelengkapan data yang dimaksud.
3.      Teknis Analisis Data
Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber. Setelah dibaca, dipelajari, dan ditelaah baru kemudian dilakukan analisis model interaktif dengan tahapan sebagai berikut:
a.      Reduksi data, yaitu kegiatan menyeleksi, menentukan fokus, menyederhanakan dan mentransformasikan data yang muncul pada catatan lapangan. Reduksi data yang dilakukan berupa penulisan ringkasan, penajaman, pengkodean, pemfokusan, pembuangan, dan penyusunan data sehingga kesimpulan dapat ditarik, dibuktikan, dan dipertanggungjawabkan.
b.      Display data, yaitu kategorisasi dengan menyusun sekumpulan data berdasarkan pola pikir, pendapat, dan kriteria tertentu untuk menarik kesimpulan. Display data membantu untuk memahami peristiwa dan apa yang harus dilakukan untuk analisa data lebih jauh dan lebih dalam berdasarkan pemahaman terhadap peristiwa tersebut. Display yang lebih baik merupakan usaha pokok untuk menvalidkan analisis kualitatif.
c.       Penyimpulan atau pembuktian, yaitu menafsirkan berdasarkan kategori yang ada dan menggabungkan dengan melihat hubungan semua data yang ada, sehingga dapat diketahui analisis kebijakan sekolah untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar di MA. Arrahmah dengan utuh, holistik dan komprehensif.
Analisis data yang meliputi; reduksi, display, dan penyimpulan data dalam penelitian ini dilakukan secara bersamaan dan terus menerus selama proses pengumpulan data. Setiap data yang telah diperolah, dianalisis sesuai dengan tahapan-tahapan analisa data, guna memperoleh kesimpulan sementara. Kemudian kesimpulan sementara itu diuji kembali nilai validitasnya selama penelitian berlangsung dengan melihat seluruh aspek rasionalitas, keakuratan, serta keobjektifannya. Hal ini dilakukan sampai diperoleh kesimpulan final sebagai jawaban atas beberapa pertanyaan penelitian yang telah disusun.
Untuk lebih jelasnya model analisis tersebut, berikut digambarkan skemanya secara kongkrit. Skema ini digambarkan oleh Miles dan Huberman (1984: 13) dalam bukunya An Expanded Sourcebook: Qualitative Data Analysis sebagai berikut:





Gambar 1
Komponen-komponen Analisis Data: Model Interaktif
(Miles & Huberman, 1984)
d.    Teknik Penentuan Keabsahan Data
Pengujian keabsahan data dilakukan dengan cara ketekunan/keajegan pengamatan, triangulasi data dan auditing atau pemeriksaan data. Berkaitan dengan hal tersebut, maka langkah-langkah yang ditempuh dalam pengujian keabsahan data seperti tersebut di bawah ini:
a.         Ketekunan pengamatan bermaksud menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat releven dengan persoalan atau isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci. Keajegan pengamatan diupayakan mencari secara konsisten interprestasi dengan berbagai cara dalam kaitan dengan proses analisis yang konstan dan tentatif, dengan cara mencari konsistensi apa yang dapat diperhitungkan dengan apa yang tidak dapat, agar data betul-betul valid, akurat, dan bisa dipertanggungjawabkan.
b.        Triangulasi data, yaitu memeriksa keabsahan data melaui sumber, metode penyidik dan teori. Triangulasi sumber digunakan dengan membandingkan dan mencocokkan hasil wawancara dengan data yang diperoleh dari hasil pengamatan dan dokumentasi, membandingkan apa yang dikatakan sumber data di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi, dan kata-kata subjek penelitian dengan perspektif orang lain ketika sendirian secara informal. Triangulasi dengan metode dilakukan dengan mencocokkan dan pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama. Triangulasi penyidik dilakukan dengan memanfaatkan peneliti atau pengamat lainnya untuk keperluan pengecekan data. Triangulasi dengan teori digunakan untuk mempertajam analisis penelitian dengan memeriksa derajat kepercayaan data.
c.         Auditing, yaitu pemeriksaan data yang diperoleh dalam proses pelaksanaan pengumpulannya. Pelaksanaannya dengan melihat atau mencocokkan semua catatan-catatan pelaksanaan keseluruhan proses dengan dokumen yang berkaitan dengan manajemen mutu, baik berupa data dinding, notulen, maupun praktek dan kejadian yang berlangsung, dan disesuaikan antara konsep dan pelaksanaan di lapangan.

e.       Sumber Informasi Penelitian dan Sumber Data
Pengertian sumber informasi atau sumber data adalah subjek (informan) dari mana data diperoleh. Dalam penelitian ini ditentukan subjek penelitian dengan menggunakan "snowball sampling technique" yaitu peneliti memilih orang tertentu yang dipertimbangkan akan memberikan data dan informasi yang diperlukan, selanjutnya berdasarkan data atau informasi yang diperolah dari sampel sebelumnya itu, peneliti dapat menetapkan sampel lainnya yang dipertimbangkan akan memberikan data lebih lengkap. Adapun penelusuran data dan informasi yang dibutuhkan terutama kepada Kepala Sekolah, pegawai sekolah, guru, siswa, dan stakeholder.
Sedangkan di MA. Arrahmah  sebagai tempat penelitian ini, informannya adalah Tata Usaha, Waka. Kesiswaan, wakil TU di MA. Arrahmah

Sumber  data dalam riset ini terdiri dari dua sumber, antara lain :
a.         Data primer, merupakan referensi utama untuk memperoleh teori atau konsep
b.         Data sekunder yaitu referensi penunjang yang relevan dengan masalah yang sedang diteliti untuk melengkapi sumber data primer.

F.     Sistematika Pembahasan
Sistematika penulisan merupakan urutan pembahasan dari bab awal sampai akhir yang meumusatkan satu kesatuan utuh dengan sistematis. Paper ini secara keseluruhan terdiri dari tiga bab dengan perincian sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan, terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, mamfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab II : Pembahasan, terdidiri dari Analisis teori, Manajemen,manajemen Mutu,dan analisis SWOT. temuan-temuan tentang MA Arrahmah,manajemen mutu MA Arrahmah, dan kendala-kendala dalam penerapan manajemen mutu MA Arrahmah
Bab III : Penutup, terdiri dari kesimpulan dan saran 
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Analisis Teori
1. Kebijakan
a.      Pengertian Kebijakan
            kebijakan adalah rangkayan konsep dan asas yang menjadi pedoman dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan cara bertindak.[4]  Istilah ini dapat diterapkan kepada pemerintah, organisasi dan kelompok sektor swasta, serta individu. Kebijakan berbeda dengan peraturan dan hokum. Jika hokum dapat di paksakan atau melarang suatu perilaku (misalnya sustu hokum yang mengharuskan pembayan pajak penghasilan), kebijakan hanya jadi pedoman untuk mengambil tindakan yang paling mungkin diinginkan.
            Kebijakan atau kebijakan-kebijakan dapat pula merujuk pada proses pembuatan keeputusan-keputusan penting organisasi, termasuk identifikasi berbagai alternatif, seperti prioritas program atau penyaluran dan pemilihannya berdasarkan dampaknya. Kebijakan dapat diartikan sebagai mekanisme politis, manajemen, financial, atau administratif untuk mencapai suatu tujuan eksplisit.

[1] S.Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan (Jakarta:PT.Rineka Cipta,1997), hal. 23
[2] Syarqawi Dhofir, Pengantar Metodologi Riset (Prenduan: Iman Bela, 2000), hal. 47.
[3] Ibid, hal. 188
[4]  Kamus besar bahasa Indonesia (KBBI)

No comments: