Kamis, 06 Desember 2012

” TINDAK TUTUR DALAM BERBICARA DIKELAS ”


KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Teori Asal Mula Pancasila”. Dalam proses pembuatan makalah ini telah banyak merepotkan banyak pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1.      Bapak Drs. Soetopo.M. M.Pd selaku pengajar mata kuliah Pancasila yang telah membimbing kami dalam penyusunan makalah ini.
2.      Teman – teman kelompok yang telah mendukung dan berpartisipasi menyelesaikan makalah ini.
3.      Kedua orang tua yang telah mendoakan dan telah member dukungan selama mengikuti perkuliahan Pancasila ini.


Pamekasan , 29 November  2012
Penulis

MUQSITH
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...................................................................... i
KATA PENGHANTAR.................................................................. iii
DAFTAR ISI .................................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………1
A. Latar belakang ............................................................................ 1
B.  Rumusan masalah ...................................................................... 1
C.  Tujuan Penuliasan .......................................................................1
BAB II PEMBAHASAN…………………………………………. 2
A.    Asal Mula Pancasila............................................................. 2
B.     Unsur pancasila ……………………………………………3
C.      Asal Mula Pancasila Secara Formal ....................................5
BAB III PENUTUP………………………………………………. 11
A.    Kesimpulan.......................................................................... 11
B.     Saran ................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................12  





BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berbicara merupakan suatu keterampilan dalam menyampaikan pesan melalui bahasa lisan kepada orang lain. Kegiatan berbicara yang di dalamnya terdapat interaksi antara penutur dan petutur dapat dikatakan sebagai percakapan. Kegiatan berbicara seperti ini memiliki kedudukan yang penting karena tidak terlepas dari fungsi manusia itu sendiri sebagai makhluk sosial yang melakukan percakapan dalam membentuk interaksi antarpersona dalam pemeliharaan hubungan sosial di masyarakat. memberikan defenisi pada percakapan sebagai suatu aktivitas yang diatur oleh kaidah-kaidah, norma-norma, dan konvensi-konvensi yang dipelajari sebagai bagian dari proses pemerolehan kompetensi berbahasa.
Percakapan  merupakan salah satu bentuk wacana lisan. Salah satu faktor yang mempengaruhi bentuk dan makna wacana lisan adalah peristiwa tutur. Peristiwa tutur yang dimaksud adalah peristiwa tutur tertentu yang mewadahi kegiatan bertutur, misalnya pidato, percakapan, seminar, sidang pengadilan, konferensi, acara keduri, dan lain-lain. Wacana yang dipersiapkan untuk pidato akan berbeda bentuk dan isinya dengan wacana untuk seminar. Demikian pula dengan wacana untuk acara keduri akan berbeda bentuk dan isinya dengan wacana saat konferensi.
Hymes (1964) menggunakan istilah peristiwa tutur untuk aktivitas yang secara langsung diatur oleh norma-norma dalam penggunaan percakapan. Hymes (1964) mengungkapkan bahwa peristiwa tutur itu memiliki hubungan yang erat dengan latar peristiwa. Peristiwa tutur tertentu akan terjadi dalam konteks situasi tertentu pula. Sesuai dengan konteks situasinya, suatu peristiwa tutur mungkin akan lebih tepat diantarkan dengan bahasa yang satu, sedangkan peristiwa tutur yang lain lebih cocok diantarkan dengan bahasa yang lain.
Efektivitas interaksi merupakan hal yang penting bagi guru maupun siswa agar proses belajar-mengajar berjalan lancar. Untuk mencapai efektivitas komunikasi diperlukan pemahaman terhadap berbagai faktor yang berkaitan dengan jarak dan kedekatan sosial untuk melaksanakan tindak tutur (speech act).
Tindak tutur disebutkan oleh Chaer dan Agustina (1995: 65) sebagai gejala individual, bersifat psikologis, dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Dengan tindak tutur, guru dan siswa dapat mengembangkan pola komunikasi dalam mencapai efektivitas proses belajar-mengajar. Oleh karena itu, penutur dan petutur perlu memperhatikan prinsip kerja sama maupun kesantunan dalam bertutur. Prinsip kerja sama cenderung mengarah pada efektivitas penyampaian pesan, sedangkan prinsip kesantunan mengarah pada upaya-upaya pemeliharaan hubungan sosial dan personal dalam proses komunikasi.
Prinsip kerja sama dan kesantunan terkait dengan penerapan konvensi yang dikenal sebagai maksim. Maksim merupakan petuah atau kesepakatan yang menuntun percakapan. Penutur dan petutur diharapkan dapat bertutur dengan baik sesuai dengan pemahaman terhadap penerapan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan. Oleh karena itu, kerja sama sangat penting untuk menjalin komunikasi yang lancar.  
Penerapan kedua prinsip tutur ini perlu memperhatikan aspek-aspek peristiwa tutur yang sedang terjadi. Leech (1983) mengemukakan mengenai aspek-aspek dari peristiwa tutur yang meliputi (1) penutur dan petutur, (2) konteks tuturan, (3) tujuan tuturan, (4) tuturan sebagai bentuk tindak atau aktivitas, dan (5) tuturan sebagai produk tindak. Kelima aspek-aspek ini secara simultan membentuk peristiwa tutur.
         Penggunaan tuturan siswa dalam percakapan siswa terhadap guru dan terhadap siswa  di kelas dapat dikatakan sebagai penggunaan tindak tutur siswa dalam percakapan di kelas. Karena adanya pengaruh konteks penggunaannya termasuk norma sosial budaya penuturnya, penggunaan tindak tutur siswa dalam percakapan di kelas dapat bervariasi, yang ada pada suatu tempat berbeda dengan yang ada di tempat lain, yang ada pada suatu daerah berbeda dengan yang ada di daerah lain, yang ada pada suatu negara berbeda dengan yang ada di negara lain. Berdasarkan hal tersebut, kajian terhadap penggunaan tindak tutur siswa dalam percakapan di kelas .

B.  Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang dirumuskan dalam Penelitian kecil ini adalah sebagai berikut.
1.      Bagaimanakah penggunaan tindak tutur siswa dalam percakapan di kelas ?
2.      Bagaimanakah penggunaan prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan dalam percakapan di kelas?  




BAB II
PEMBAHASAN

Pada bab ini diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan teori yang menjadi dasar dalam telaah. Hal-hal yang diuraikan mencakup a) pendekatan pragmatik, b) wacana percakapan, c) tindak tutur, d) prinsip kerja sama, e) prinsip kesantunan, serta f) hubungan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan dengan efektivitas proses belajar-mengajar.

2.1 Pendekatan Pragmatik
Pragmatik merupakan kajian terhadap makna penutur yang disesuaikan dengan konteksnya sehingga memungkinkan untuk lebih mengetahui hal yang dikomunikasikan daripada yang dikatakan. Pemahaman makna dalam perspektif pragmatik dipengaruhi oleh ekspresi jarak relatif yang menyebabkan penutur mempertimbangkan apa yang dikatakan dan tidak dikatakan. Pengkajian bahasa secara pragmatik dapat memberikan keuntungan, yaitu dapat membicarakan makna yang dimaksudkan oleh orang-orang, asumsi-asumsi mereka, maksud atau tujuan mereka, dan jenis-jenis tindakan yang mereka ajukan ketika bertutur. Akan tetapi, di balik itu juga terdapat kelemahannya, yaitu kesulitan dalam menganalisis konsep manusia secara konsisten dan objektif. Hal ini disebabkan oleh adanya kemungkinan penggunaan tuturan yang mengimplikasikan beberapa hal tanpa memberikan penjelasan linguistik sebagai acuan terhadap tuturan. Misalnya,
A: Jadi, kamu ya?
B: Mengapa tidak!

Pada kutipan tersebut, setiap pendengar dapat mengetahui apa yang mereka katakan, tetapi belum tentu mengetahui apa yang mereka komunikasikan. Oleh karena itu, pendekatan pragmatik diperlukan dalam usaha untuk memahami tuturan.

2.2 Wacana Percakapan
Wacana percakapan merupakan interaksi komunikasi yang melibatkan dua orang atau lebih dalam mencapai tujuan tuturan. Akan tetapi, percakapan lebih dari sekedar pertukaran informasi (Ismari, 1995: 3 dalam http://jasminealmaghribi.blogspot.com). Mereka yang mengambil bagian dalam proses percakapan tersebut akan memberikan asumsi-asumsi dan harapan-harapan mengenai percakapan sehingga percakapan tersebut berkembang sesuai dengan jenis kontribusi yang diharapkan dan telah dibuat oleh mereka. Mereka dalam hal ini akan saling berbagi prinsip-prinsip umum yang akan memudahkan dalam menginterpretasikan ujaran-ujaran yang dihasilkan.
Pada wacana percakapan terdapat giliran tutur dan pasangan berdekatan. Giliran tutur dalam suatu percakapan sangat penting. Ismari (1995: 17) mengemukakan bahwa giliran tutur merupakan syarat percakapan yang dapat menimbulkan pergantian peran peserta. Dalam percakapan yang baik selalu terjadi pergantian peran, yaitu peran pembicara dan pendengar. Seorang penutur dengan pengetahuan yang kurang mengenai aturan pengambilan giliran tutur adalah penutur yang tidak memberikan kesempatan berbicara kepada lawan bicara. Orang seperti ini akan membangkitkan penilaian negatif atau akan membuat percakapan berakhir secepat mungkin.
Adanya giliran tutur dapat membantu menggambarkan keteraturan proses percakapan. Wujud keteraturan ini dapat dilihat pada rangkaian tuturan yang direpresentasikan menjadi pasangan berdekatan. Ismari (1995: 11) menyebutkan pasangan berdekatan sebagai ujaran yang dihasilkan oleh dua pembicara secara berturut-turut. Ujaran kedua diidentifikasi dalam hubungannya dengan ujaran pertama. Ujaran pertama merupakan bagian pertama pasangan dan ujaran berikutnya merupakan bagian kedua dari pasangan. Oleh karena itu, seorang penutur pada saat menghasilkan tuturan mengharapkan lawan bicaranya akan memberikan bagian kedua pada pasangan yang serasi.
Pada wacana kelas, tuturan guru dan siswa akan membentuk rangkaian pasangan berdekatan yang terfokus pada topik tertentu. Hal ini merupakan gejala alamiah dalam proses percakapan, termasuk wacana kelas.
Di dalam pasangan berdekatan terdapat stimulus-respons dan feedback. Proses stimulus-respons yang berulang akan menimbulkan kebiasaan dan keteraturan. Proses ini dapat dilihat pada tuturan yang berfungsi sebagai inisiasi, dan diikuti oleh tuturan yang berfungsi sebagai respons. Inisiasi dapat dikatakan sebagai pembuka atau pemicu suatu tuturan. Sementara itu, respons merupakan hasil dari adanya inisiasi. Respons dapat dibedakan menjadi dua, yaitu respons langsung dan tak langsung (Haliday:1986). Respons langsung adalah tuturan yang digunakan secara langsung dalam menjawab pertanyaan. Bentuk respons ini adalah jawaban ya dan tidak. Sementara itu, respons tidak langsung adalah tuturan yang digunakan tidak secara langsung dalam menjawab pertanyaan. Pada umumnya bentuk respons tidak langsung digunakan untuk mengkomentari pertanyaan, mengabaikan relevansi (sangkalan), atau respons yang memberi informasi pendukung. Bagian ketiga dari pasangan berdekatan adalah feedback. Feedback dapat difungsikan sebagai penutup tuturan.
Pasangan berdekatan yang di dalamnya terdapat inisiasi (I), respons (R), dan feedback (F) pada umumnya memiliki struktur, seperti a) [IRF], yakni struktur penuh, di dalamnya terdapat respons verbal secara penuh terhadap inisiasi, b) [IR (F)], struktur dari pasangan berdekatan yang di dalamnya terdapat inisiasi yang menyebabkan respons dalam bentuk nonverbal, dan c) [I (R)], yakni struktur yang memiliki inisiasi dalam bentuk penyampaian informasi proporsional yang tidak memerlukan respons.
Misalnya:
[IRF]
Guru                : Apa sudah benar jawaban Andi?
Siswa              : Benar.
Guru                : Baik.
[IR (F)]
Siswa 1           : Bisa pindah sedikit, ali ?
Siswa 2           : (pindah)
[I (R)]
Guru                : ulangan akan dimulai minggu depan.
Siswa              : ....

            Suatu proses komunikasi dapat berlangsung lancar. Inisiasi (I) yang diikuti oleh respons (R) dan feedback (F) mengimplikasikan telah terjadinya percakapan yang berlangsung secara efektif dan efesien. Akan tetapi, tidak semua proses percakapan berlangsung secara efektif dan efesien. Adanya rangkaian sisipan (insertion sequences) dapat ditemukan di antara I dan R. Pada umumnya struktur seperti ini dapat dirumuskan dengan (Q (Q-A) A), (pertanyaan (pertanyaan-jawaban) jawaban)
Misalnya:
A: Banyak tidak yang ikut latihan pramuka?
B: Kamu mengapa tidak ikut latihan?
A: Bagaimana lagi, saya ada ulangan besoknya di sekolah
B: Lumayan banyak sih, yang ikut.

Contoh di atas memperlihatkan adanya sisipan dalam pasangan berdekatan. Pertanyaan A seharusnya dijawab secara relevan oleh B. Namun, B ternyata memberikan pertanyaan baru yang tidak relevan untuk menjawab pertanyaan A sebelumnya. Adanya pasangan berdampingan baru dari pasangan berdampingan yang seharusnya dituntaskan dapat disebut sebagai pasangan sisipan.
Pada interaksi di kelas bahasa yang digunakan guru berkaitan dengan pola penguasaan. Guru yang lebih dominan dapat menyebabkan terjadinya kekakuan dalam interaksi. Siswa dikondisikan untuk tidak diberi kesempatan berlatih dan kreatif dalam penggunaan bahasanya. Tuturan siswa pada bentuk ini lebih banyak yang bersifat langsung, sopan, lebih berhati-hati dalam penggunaan tuturan, dan kalimatnya pendek-pendek. Sementara itu, idealnya suatu interaksi yang terjadi di kelas adalah adanya sikap saling menghargai terhadap pendapat dan pemberian kesempatan dalam berkreativitas. Umumnya, bentuk interaksi yang ideal ini seimbang antara guru dan siswa, bahkan ada kemungkinan siswa yang lebih mendominasi dalam keaktifan, sementara itu, guru hanya sebagai pendamping dan pengarah kepada pembelajaran yang lebih mandiri. Interaksi seperti ini sangat baik diterapkan pada kegiatan di kelas. Tuturan pada bentuk interaksi seperti ini tidak berbeda jauh dengan tuturan pada interaksi yang didominasi guru. Yang membedakan hanyalah adanya penghargaan pendapat dan kreatifitas kerja siswa tanpa tekanan mental yang menjatuhkan motivasinya.

2.3 Tindak Tutur (speech act)

Tindak tutur memiliki banyak jenis. Levinson (1983) mengungkapkan bahwa fenomena tindak tutur inilah yang sebenarnya merupakan fenomena aktual dalam situasi tutur. Peristiwa tutur dalam bentuk praktisnya adalah wacana percakapan, pidato, surat, dan lain-lain. Sementara itu, tindak tutur merupakan unsur pembentuk yang berupa tuturan.
Tindak tutur dapat dinyatakan sebagai segala tindak yang kita lakukan melalui berbicara, segala yang kita lakukan ketika kita berbicara (Ismari, 1995: 76 dalam http://jasminealmaghribi.blogspot.com). Akan tetapi, definisi ini terlalu luas untuk sebagian tujuan. Bahasa digunakan untuk membangun jembatan pemahaman dan solidaritas, untuk menyatukan kekuatan-kekuatan politik, untuk menyatakan argumentasi, untuk menyampaikan informasi kepada sesama, untuk menghibur, untuk memberikan kritik dan saran, singkatnya untuk berkomunikasi.
Pengertian yang lebih sempit mengenai tindak tutur dapat dinyatakan sebagai satuan terkecil dari komunikasi bahasa yang memiliki fungsi dengan memperlihatkan gejala individual, bersifat psikologis, dan keberlangsungannya bergantung pada kemampuan penutur dalam menghasilkan suatu kalimat dengan kondisi tertentu. Hal ini sejalan dengan pernyataan Richards (Suyono, 1990: 5 dalam http://jasminealmaghribi.blogspot.com) yang berpendapat mengenai tindak tutur sebagai the things we actually do when we speak “sesuatu yang benar-benar kita lakukan ketika bertutur” atau the minimal unit of speaking which can be said to have function “satuan terkecil dari unit tuturan yang dapat dikatakan memiliki fungsi”. Pendapat yang mirip juga ditemukan pada pernyataan Arifin dan Rani (2000:136dalam http://jasminealmaghribi.blogspot.com) yang menganggap tindak tutur sebagai produk atau hasil dari suatu kalimat dalam kondisi tertentu dan merupakan satuan terkecil dari komunikasi bahasa. Chaer dan Agustina (1995:64) lebih mengkhususkan tindak tutur sebagai gejala individual, bersifat psikologis, dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu.
Seorang filsuf yang bernama Austin (Ismari, 1995: 77 dalam http://jasminealmaghribi.blogspot.com) menyatakan ada lebih dari 1000 kata kerja yang memiliki daya tindak ilokusi dalam bahasa Inggris. Austin (Ismari, 1995: 77) menyebutkan beberapa kata kerja seperti bertanya (ask), meminta (request), memimpin (direct), membutuhkan (require), menyuruh (order), memerintah (command), menyarankan (suggest), memohon dengan sangat (beg), menuntut (plead), yang kesemuanya menandai tindak tutur. Akan tetapi, kata kerja-kata kerja dalam bahasa Inggris seperti yang dikemukakan oleh Austin itu dilengkapi dengan taksonomi awal yang berguna untuk tindak tutur, tetap saja nama-nama kata kerja tersebut tidak sama dengan ‘tindak’. Dengan kata lain, tindak tutur tidak sekedar setara dengan kata kerja yang menggambarkan mereka. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Searle.
Searle (Ismari, 1995: 77) menunjukkan adanya kata kerja-kata kerja yang bukan merupakan tanda-tanda dari daya ilokusioner, tetapi merupakan tanda-tanda dari ciri lain tindak tutur tersebut, misalnya berkeras hati (insist) yang menandai tingkat intensitas, tetapi tindak menandai fungsi-fungsi tindak tutur.

Searle memberikan contoh dalam kalimat I suggest/insist that we go to movies “Aku menyarankan/berkeras hati bahwa kita pergi ke bioskop” atau dengan kalimat lain I suggest/insist that the answer is found on page 16. “Aku menyarankan/berkeras hati bahwa jawaban ditemukan di halaman 16.”
Pada umumnya seorang guru melakukan tindak tutur dalam membentuk wacana kelas yang komunikatif. Searle mengklasifikasikan tindak tutur yang didasarkan pada maksud penutur ketika berbicara. Adapun tindak tutur yang dikemukakan oleh Searle sebagai berikut.

a. Tindak Representatif

Tindak representatif merupakan tindak bahasa yang menjelaskan apa dan bagaimana sesuatu itu sebagaimana adanya, misalnya tindak menyatakan, tindak menunjukkan, dan tindak menjelaskan (Suyitno, 2002:104 dalam http://jasminealmaghribi.blogspot.com). Levinson (1983) memberikan pengertian terhadap tindak representatif sebagai tindak tutur untuk menyampaikan proposisi yang benar. Yang termasuk dalam tindak ini adalah tindak memberi informasi, memberi izin, keluhan, permintaan ketegasan maksud tuturan, dan lainnya. Pengertian itu ditambahkan lagi oleh Searle (1969) yang mengemukakan tindak tutur representatif sebagai tindak yang berfungsi menetapkan atau menjelaskan apa dan bagaimana sesuatu itu terjadi dengan apa adanya, contohnya pemberian pernyataan, saran, pelaporan, pengeluhan, dan sebagainya. Ketiga pernyataan di atas dipertegas oleh Bach dan Hamish yang dikutip Arifin dan Rani (2000: 211) bahwa tindak tutur representatif adalah tindak tutur yang biasanya disampaikan dan dimaksudkan untuk memperoleh respons tertentu. Respons ini merupakan suatu tindakan dalam memberikan balasan terhadap apa yang diinginkan penutur.
Contoh dialog yang menyatakan atau menjelaskan.
                   Virga     :           Bolpoin itu bukan milik saya.
                   Fatah     :           Lalu milik siapa?
                   Virga     :           Saya tidak tahu.

Contoh dialog singkat tersebut menunjukkan penjelasan Virga bahwa bolpoin itu bukan miliknya, dan Virga mengemukakan pula bahwa ia tidak tahu siapa sebenarnya yang memiliki bolpoin tersebut.

b. Tindak Komisif

Berbeda dengan tindak tutur representatif, tindak tutur komisif dalam pandangan Searle (1969) dianggap sebagai tindak tutur yang memiliki fungsi untuk mendorong  penutur melakukan sesuatu. Yang termasuk dalam tindak komisif itu sendiri adalah bersumpah, berjanji, dan mengajukan usulan. Jumadi (2006: 71 dalam http://jasminealmaghribi.blogspot.com) ikut menambahkan pendapatnya terhadap tindak tutur komisif sebagai salah satu jenis tindak tutur yang digunakan oleh penutur untuk membuat dirinya sendiri berkomitmen dalam melakukan tindakan tertentu di masa yang akan datang. 
Contoh tindak tutur yang menyatakan janji.
 Siswa            :          Saya berjanji tidak akan terlambat lagi datang ke sekolah.
 Guru             :          Baik kalau begitu saya akan pegang janji kamu.

Contoh kutipan percakapan tersebut berisikan pernyataan janji oleh seorang siswa kepada guru. Siswa melakukan tindak berjanji untuk tidak terlambat.

c. Tindak Direktif

       Tindak tutur berikutnya adalah tindak tutur direktif. Tindak tutur direktif merupakan tindak tutur yang mengekspresikan maksud dalam bentuk perintah atau permintaan untuk menghasilkan efek melalui suatu tindakan pada mitra tuturnya. Levinson dalam buku Prinsip-Prinsip Analisis Wacana yang ditulis Arifin dan Rani (2000:206 dalam http://jasminealmaghribi.blogspot.com) mengemukakan tindak tutur direktif sebagai tindak tutur yang bermaksud untuk menghasilkan efek melalui suatu tindakan oleh pendengar. Tidak berbeda jauh dengan Searle yang juga dikutip oleh Arifin dan Rani (2000:1206 dalam http://jasminealmaghribi.blogspot.com) mengemukakan tindak tutur direktif sebagai tindak tutur yang mendorong pendengar untuk melakukan sesuatu. Pendapat tersebut dipertegas kembali oleh Bach dan Harmish (Arifin dan Rani, 2000: 206) yang mengartikan tindak tutur direktif sebagai tindak tutur yang mengekspresikan maksud penutur agar mitra tuturnya melakukan suatu tindakan.
Fungsi pragmatis untuk menyampaikan tindak direktif ini memiliki wujud seperti berikut ini.
a)    Pertanyaan untuk Meminta Informasi
Informasi merupakan pernyataan yang mungkin benar dan mungkin juga salah. Informasi mengacu pada sesuatu yang keberadaannya bersifat independen atau berstatus objektif. Sesuatu yang dimaksud dapat berupa fakta, opini, keputusan, maksud, alasan, atau objek nyata.
    b)     Pertanyaan untuk Meminta Konfirmasi
Pertanyaan untuk meminta konfirmasi pada dasarnya merupakan bagian dari permintaan informasi yang merujuk pada peristiwa percakapan terdahulu.
    c)     Pertanyaan untuk Menguji
Pertanyaan yang berfungsi pragmatis pengujian berasal dari pembicara yang meminta agar pendengar melakukan tindakan berupa pembuktian bahwa dirinya mengetahui tentang sesuatu yang ditanyakan.

d. Tindak Ekspresif

Selain tindak tutur representatif, komisif, dan direktif, juga terdapat tindak tutur ekspresif. Searle (1969) mengemukakan bahwa tindak ekspresif adalah tindak tutur yang berkaitan dengan perasaan dan sikap. Tindak tutur ini berupa tindakan meminta maaf, humor, memuji, basa-basi, berterima kasih, dan sebagainya. Tindak ekspresif ini memiliki fungsi untuk mengekspresikan sikap psikologis pembicara terhadap pendengar sehubungan dengan keadaan tertentu.
Contoh tindak tutur meminta maaf.
     Guru               : Mengapa kamu belum menyerahkan tugas rumah?
     Siswa              : Maaf Pak, tugas itu belum selesai saya kerjakan.
     Guru               : Kapan akan diserahkan?
     Siswa              : Insya Allah besok Pak.

Contoh penggalan percakapan tersebut berisikan tindak tutur ekspresif yang    menyatakan permintaan maaf. Tindak tutur meminta maaf dilakukan oleh siswa yang tidak menyerahkan tugas rumah kepada guru. Siswa mengekspresikan tindak tutur meminta maaf dengan menggunakan kata maaf.

e. Tindak Deklaratif

Tindak tutur yang terakhir yang dikelompokan Searle (1969) adalah tindak tutur deklaratif. Tindak tutur deklaratif adalah tindak tutur yang menghubungkan isi proposisi dengan realitas yang sebenarnya. Tindak tutur ini dapat dilihat pada tindak menghukum, menetapkan, memecat, dan memberi nama. Oleh Suyono (1990: 7 dalam http://jasminealmaghribi.blogspot.com) tindak deklaratif dinyatakan sebagai tindak tutur yang berfungsi untuk memantapkan atau membenarkan sesuatu tindak tutur sebelumnya. Tindak tutur ini dinyatakan dengan setuju, tidak setuju, benar, dan lain-lain.
    Contoh tindak tutur deklaratif dapat dilihat pada dialog di bawah ini.
    Guru            : Apa pendapat kalian tentang kecurangan dalam ujian ?
  Aldi             :Menurut saya, salah satu faktor yang mempengaruhi kecurangan   
                       siswa dalam menjawab ujian adalah ketidaksiapan belajar untuk
                       menghadapi ujian itu sendiri. Bagaimana Pak?
 Guru             : Ya, saya setuju dengan pendapat kamu.

Contoh dialog yang telah dikemukakan merupakan tindak tutur deklaratif.       Guru menggunakan tindak tutur deklaratif dalam bentuk persetujuan terhadap pendapat yang dikemukakan oleh siswa. Pernyataan persetujuan yang diberikan guru ditandai dengan penggunaan kata setuju.

2.4  Prinsip Kerja Sama

Percakapan merupakan interaksi verbal antara dua partisipan atau lebih. Percakapan dalam hal ini lebih dari sekedar pertukaran informasi. Ismari mengemukakan (1995: 3 dalam http://jasminealmaghribi.blogspot.com) mereka yang mengambil bagian dalam proses percakapan tersebut akan memberikan asumsi-asumsi dan harapan-harapan mengenai percakapan sehingga percakapan tersebut berkembang sesuai dengan jenis kontribusi yang diharapkan dan telah dibuat oleh mereka. Mereka dalam hal ini akan saling berbagi prinsip-prinsip umum yang akan memudahkan dalam menginterpretasikan ujaran-ujaran yang dihasilkan.
Di dalam berkomunikasi seorang penutur mengkomunikasikan sesuatu kepada petutur dengan harapan agar petutur itu dapat memahami apa yang dikomunikasikannya. Tidaklah mungkin akan terjadi komunikasi antara penutur dan petutur apabila antara keduanya tidak terjadi komunikasi. Oleh karena itu, seorang penutur harus selalu berusaha agar pembicaraannya itu relevan dengan konteks, jelas, mudah dipahami, padat dan ringkas, serta terfokus pada persoalan, sehingga tidak menghabiskan waktu. Dengan kata lain, antara penutur dan petutur terdapat prinsip kerja sama yang harus mereka terapkan agar proses komunikasi dapat berjalan dengan lancar.
Kerja sama dapat diartikan sebagai keterlibatan partisipan dalam membentuk suatu percakapan lengkap dengan unsur-unsur yang diperlukan. Fungsi kerja sama adalah membentuk peristiwa tutur  Grice (1975) mengemukakan mengenai prinsip kerja sama: Make your contribution such as is required at the stage at which it occurs, by the accepted purpose or direction of the talk exchange in wich you are engaged. “Berikanlah sumbangan Anda pada percakapan sebagaimana diperlukan, pada tahap terjadinya, oleh tujuan yang diterima atau arah pertukaran pembicaraan yang Anda terlibat di dalamnya.”
Pada umumnya kerja sama dalam percakapan ditopang oleh unsur-unsurnya. Unsur-unsur penopang kerja sama dalam percakapan disebut sebagai maksim. Maksim merupakan petuah yang memberikan tuntunan dalam bertutur. Grice (1975) membagi prinsip kerja sama dalam suatu percakapan menjadi empat. Maksim tersebut diuraikan sebagai berikut.

a. Maksim Kuantitas

Maksim Kuantitas berbunyi “Berikanlah jumlah informasi yang tepat”. Pemberian jumlah informasi dalam berkomunikasi dengan orang lain hendaknya dapat memberi keterangan seinformatif mungkin, tetapi jangan pula memberikan keterangan lebih daripada yang diinginkan. Ini berarti, informasi yang diberikan kepada orang lain dalam peristiwa tutur hendaknya secukupnya saja. Jangan lebih dan jangan kurang. Maksim kuantitas ini terdiri dari dua submaksim, yaitu a) berikan sumbangan Anda seinformatif yang diperlukan dan b) sumbangan informasi Anda jangan melebihi yang diperlukan.
Contoh:
            Guru       :  Apakah kamu sudah menyelesaikan PR Bahasa Inggris?
            Siswa      :  Sudah Pak       
            Guru       :  Apakah jawaban kamu sama dengan jawaban Yuli ?
                                    Siswa      : Sebenarnya sama, tetapi kalimat yang Saya gunakan    
                                                     berbeda dengan Yuli karena Saya menggunakan buku terbitan
                                                     Intan pariwara. Ternyata buku tersebut sangat lengkap dalam
                                                     membahas soal seperti yang Bapak terangkan tadi. Apa Bapak
                                                     sudah punya buku itu?

Jika dibandingkan antara dialog (a) dan dialog (b) terlihat perbedaan. Dialog (a) antara guru dan siswa terdapat kerja sama yang baik. Siswa telah memberikan kontribusi yang secara kuantitas memadai dan mencukupi. Berbeda halnya dengan dialog (b), antara guru dan siswa tidak terlihat adanya kerja sama yang baik. Ini dikarenakan siswa memberikan kontribusi yang berlebihan yang tidak diperlukan guru.

b. Maksim Kualitas

Maksim Kualitas berbunyi “Usahakan agar sumbangan informasi Anda benar”. Maksim ini menyarankan agar dalam peristiwa tutur, kita tidak mengatakan kepada orang lain sesuatu yang kita yakini salah. Artinya, sesuatu yang diyakini salah jangan dikatakan atau disarankan untuk dilakukan oleh orang lain. Jangan menyebarkan kesalahan. Selanjutnya, apabila tidak diketahui secara persis (kebenaran atau kesalahannya) juga jangan dikatakan atau disarankan untuk dilakukan atau dicontoh orang lain. Daripada memberikan informasi atau keterangan yang membingungkan, lebih baik diam. Maksim kualitas ini terdiri atas dua submaksim, yaitu a) jangan mengatakan sesuatu yang Anda yakini tidak benar dan b) jangan mengatakan sesuatu yang bukti kebenarannya kurang meyakinkan.
Contoh:
         Lukman    : Abu, Lili sekarang di kelas IX apa?
         Abu          : Dia tidak di kelas IX  A, tapi di kelas IX-B
         Lukman    : Abu, Lili sekarang di kelas IX apa?
         Abu         : Ia di kelas IX C . Cape dech!
         Lukman    : Abu, Lili sekarang di kelas XII apa?
         Abu           : Di kelas IX-B

Dialog (a), Denny memberikan kontribusi yang melanggar maksim kualitas. Hal ini akan menyebabkan Adit berpikir agak lama untuk mengetahui mengapa Abu memberikan kontribusi yang tidak diharapkannya dan dianggapnya salah. Dengan bukti-bukti yang memadai, akhirnya Lukman mengetahui bahwa jawaban yang diberikan Abu adalah salah karena telah membandingkan dirinya dengan Lili.  Pada dialog (b), jawaban Abu dianggap melanggar maksim kualitas dengan tujuan untuk mendapatkan efek lucu. Kelucuan itu terdapat pada kelas IX C , cape dech. Pada dialog (c), jawaban Abu telah dianggap menyatakan atau memberikan kontribusi yang sebenarnya.



c. Maksim Hubungan

Maksim Hubungan berbunyi “Usahakan perkataan Anda ada relevansinya”. Melalui maksim hubungan ini kita dalam peristiwa tutur dituntut untuk selalu menyatakan sesuatu yang relevan. Dengan kata lain, dalam percakapan harus diketahui fokus persoalan yang sedang dibicarakan dan perubahan yang terjadi pada fokus tersebut. Pemahaman terhadap fokus persoalan akan membantu dalam menginterpretasi serta mereaksi tuturan-tuturan yang dilakukan lawan bicara. Contoh:

           Virga        : Di mana buku Bahasa Indonesiaku?
           Sani          : Di lemari kelas
           Virga        : Di mana buku Bahasa Indonesiaku?
           Sani          : Tadi ada Fatah yang duduk di kursi kamu saat istirahat tadi.
          Virga         : Di mana buku Bahasa Indoensiaku?
           Sani          : Saya dipanggil bapak guru Sudir!

Pada dialog (a), informasi yang disampaikan Sani ada relevansinya dengan pertanyaan Virga. Sama halnya pada dialog (b), informasi yang disampaikan Sani menggunakan penalaran sebagai berikut: Walaupun Sani tidak mengetahui jawaban yang tepat atas pertanyaan Virga, namun jawaban itu dapat membantu Virga mendapatkan jawaban yang benar. Karena, jawaban Sani mengandung implikasi kemungkinan Fatah lah yang meminjam buku Bahasa Indoensia Virga yang terdapat di lemari kelas, paling tidak Virga tahu di mana buku Bahasa Indonesianya sekarang. Akan tetapi, dialog (c), jawaban Sani tidak dapat dianggap sebagai suatu jawaban yang menunjukkan adanya kerja sama yang baik karena tidak membantu Virga untuk mendapatkan buku Bahasa Indonesianya. Pernyataan Sani dapat dikatakan relevan bila jawaban tersebut diinterpretasikan sebagai suatu keterangan mengapa Sani tidak dapat menjawab pertanyaan Virga

d. Maksim Cara

Maksim Cara berbunyi “Usahakan perkataan Anda mudah dimengerti”. Pada maksim ini yang dipentingkan adalah cara mengungkapkan ide, gagasan, pendapat, dan saran kepada orang lain. Maksim cara, dalam mengungkapkan sesuatu itu harus jelas. Untuk mencapai kejelasan ini maksim cara memiliki empat submaksim, yaitu a) hindari pernyataan-pernyataan yang samar, b) hindari ketakasaan, c) usahakan agar ringkas, dan d) usahakan agar berbicara dengan teratur.
Contoh:
(a                                                   Virga                        :  Siapa teman kamu, orang NTT itu?
                                                      Ramadhan                :  M-U-S-T-A-K-I-E-M
                                                      Virga                        : (bengong)
(b                                                   Virga                        :  Itu dia, guru baru datang.
                                                      Ramadhan                :  Dia guru baru?
                                                      Virga                        :  Bukan!

                                             Pada dialog (a), jawaban ramadhan merupakan jawaban yang kabur karena dilakukan dengan mengeja nama seseorang melalui kata demi kata. Nama orang itu MUSTAKIM ditulis dalam huruf terpisah, tetapi pengucapannya dieja sehingga tidak jelas dimengerti oleh Virga. Pada dialog (b) kalimat yang diucapkan Virga menimbulkan ketakasaan atau mengandung makna lebih dari satu.
Keempat maksim itu, diyakini Grice mampu menuntun orang untuk berkomunikasi secara maksimal, efesien, efektif, rasional, dan kooperatif jika ucapan itu benar-benar memiliki nilai kebenaran (Marcellino, 1993:63 dalam http://jasminealmaghribi.blogspot.com). Hal ini dimungkinkan apabila ucapan itu selaras dengan kejadian yang bergandengan dengan waktu dan tempat dalam suatu konteks dan situasi tertentu, dan sesuai dengan aturan konstitutif yang tepat. Ucapan tersebut harus mengandung suatu nilai yang jujur (Searle ,1969)
Kondisi ideal dalam pelaksanaan prinsip tuturan tidak selalu sesuai dengan yang diharapkan (tidak terpenuhinya prinsip kerja sama). Ini disebabkan adanya keadaan tertentu yang secara sengaja dilakukan oleh penutur untuk tidak memenuhi tuntutan prinsip secara ideal.

2.5  Prinsip Kesantunan

Proses bertutur merupakan tindak sosial dan kultural yang di dalamnya terdapat aspek-aspek kesantunan. Kesantunan selalu dipandang sebagai sebuah fenomena yang berkaitan dengan bahasa dan realitas sosial. Oleh karena itu, para ahli pragmatik memasukkan kesantunan sebagai salah satu parameter pragmatik.
Lakoff, ibu teori kesantunan mendefinisikan kesantunan sebagai “[...] sistem hubungan interpersonal yang dirancang untuk mempermudah interaksi dengan memperkecil potensi bagi terjadinya konflik dan konfrontasi yang selalu ada dalam semua pergaulan manusia” (Eelen, 2006: 2 dalam http://jasminealmaghribi.blogspot.com). Ia menghubungkan teorinya dengan teori kerja sama Grice yang didukung oleh maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim hubungan, dan maksim cara, dengan menambahkan beberapa prinsip yang diukur dari parameter sosial.
Teori kesantunan lainnya dikemukakan oleh Brown dan Levinson. Brown dan Levinson (Ismari: 1993, 10) menyajikan realisasi tindak tutur yang mempengaruhi bentuk interaksi percakapan. Mereka mengawalinya dengan premis bahwa untuk berbagai tindak tutur, ketika dua pembicara sedang berinteraksi, bermacam-macam tipe tantangan ditujukan baik untuk ‘face’ (muka) penutur maupun ‘face’ (muka) petutur. Seperti yang dikutip Eelen (2006: 5 dalam http://jasminealmaghribi.blogspot.com), Brown dan Levinson memandang kadar dan jenis kesantunan yang berlaku pada tindak tutur tertentu ditentukan oleh ‘bobot’ jenis kesantunan yang diperhitungkan oleh para penutur dari tiga variabel sosial: P (perbedaan kekuasaan), D (perbedaan jarak), dan R (peringkat atau ranking). Mereka mengaitkan kesantunan dengan penghindaran konflik. Hal ini didasarkan pada tindakan penyelamatan muka (saving face-act) dengan penghindaran tindakan mengancam muka (threatening face-act). Tema sentral yang digunakan adalah rasionalitas dan muka.  Jumadi (2005: 52 dalam http://jasminealmaghribi.blogspot.com) menjelaskannya sebagai berikut.
Rasionalitas adalah alasan atau logika, sedangkan muka adalah keinginan yang terdiri atas dua jenis, yakni muka negatif yang merupakan keinginan bahwa tindakan seseorang untuk tidak dihalangi oleh orang lain; dan muka positif adalah harapan seseorang yang diinginkan oleh orang lain.
Leech (1983) mengemukakan salah satu indikator dalam kesantunan adalah dengan menyusun ketidaklangsungan sebuah tuturan. Semakin langsung tuturan itu semakin tidak sopan. Sama halnya dengan semakin menguntungkannya sebuah tuturan bagi petutur, tuturan yang dibuat itu semakin santun, demikian juga sebaliknya. Berikut digambarkan penjelasan penggunaan tuturan dalam komunikasi.

Ketidaklangsungan
      (a)    Panggil Virga!                                                                    Kurang santun
      (b)   Saya ingin kamu panggil Virga!
      (c)    Maukah Anda memanggilkan Virga ?
      (d)   Maaf, dapatkah Anda memanggilkan Virga?
               (e)    Maaf, apakah mungkin Anda dapat memanggilkan Virga? Lebih santun

     Jenis dan kadar kesantunan yang diperlukan tergantung pada situasi, yang dapat bersifat kompetitif (tujuan ilokusioner bersaing dengan tujuan sosial, yakni memerintah atau bertanya), konvivial (tujuan ilokusioner sesuai dengan tujuan sosial, yakni memberi dan berterima kasih), kolaboratif (tujuan ilokusioner sama dengan tujuan sosial, misalnya menegaskan dan mengumumkan), konfliktif (tujuan ilokusioner bertentangan dengan tujuan sosial, misalnya mengancam, menuduh). Dalam kedua situasi terakhir, kesantunan tidak relevan – dalam situasi kolaboratif – ataupun hanya tidak mungkin – dalam situasi konfliktif. Oleh karena itu, kesantunan paling relevan dalam situasi kompetitif dan konvival. Dalam situasi kompetitif, kesantunan utamanya akan bersifat negatif – misalnya untuk menghindari perselisihan atau melakukan pelarangan – sedangkan dalam situasi yang kedua kesantunan akan bersifat positif, karena situasi-situasi konvivial itu sendiri secara intrinsik telah menguntungkan pendengar. Tambahan lagi, ada sejumlah skala yang terlibat dalam menentukan kadar dan jenis kesantunan: kerugian-keuntungan, opsionalitas, ketidaklangsungan, otoritas dan jarak sosial.
Secara umum, konsep kesantunan Leech berkaitan dengan penghindaran konflik, yang dibuktikan oleh berbagai spesifikasi maksim-maksim, sekaligus oleh pernyataan bahwa kesantunan diarahkan untuk menetapkan sikap hormat.

2.6  Hubungan Prinsip Kerja Sama dan Kesantunan dengan Efektivitas
       Proses Belajar-Mengajar
Perilaku berkomunikasi, baik transaksional maupun interaksional, merupakan tindakan sosial. Dengan kata lain, tindakan yang diwujudkan dalam tindak tutur itu terkait dengan fungsi-fungsi sosialnya.
Peran guru dalam proses belajar-mengajar di sekolah relatif tinggi. Peran guru tersebut terkait dengan peran siswa dalam belajar. Belajar merujuk pada perubahan perilaku individu sebagai akibat dan proses pengalaman, baik yang alami maupun yang sengaja dirancang. Belajar merupakan hal yang kompleks.
Kompleksitas belajar dapat dipandang dari guru dan siswa. Dari segi siswa, belajar dialami sebagai suatu proses. Siswa mengalami proses mental dalam menghadapi bahan ajar. Bahan ajar dapat berupa keadaan alam, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia, dan bahan ajar yang telah terhimpun dalam buku-buku teks pelajaran. Sementara itu, dari segi guru, proses belajar tampak sebagai perilaku belajar mengenai suatu hal. Proses belajar ini dapat diamati secara tidak langsung. Artinya, proses belajar merupakan proses internal pada siswa yang tidak dapat diamati, namun dapat dipahami oleh guru. Proses belajar ‘tampak’ melalui perilaku siswa dalam mempelajari bahan ajar. Perilaku tersebut merupakan respons siswa terhadap tindak mengajar dari guru.
Pada saat interaksi belajar-mengajar berlangsung di kelas, seorang guru diharapkan dapat menyampaikan idenya secara singkat, jelas, lengkap, benar, dan tertata. Demikian juga sebaliknya, guru mengharapkan siswanya dapat berkomunikasi sebagai respons terhadap pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Ini dikarenakan, tidak jarang ditemukannya gejala yang menyebabkan kualitas, kuantitas, relevansi, dan kejelasan pesan menjadi berkurang sehingga komunikasi yang diharapkan tidak dapat maksimal. Akibatnya, kegagalan proses belajar-mengajar di kelas tidak dapat dihindari.
Interaksi dalam proses belajar-mengajar itu penting. Agar dapat memahaminya, diperlukan kecermatan dalam memperhatikan berbagai faktor yang berkaitan dengan jarak dan kedekatan sosial untuk melaksanakan tindak tutur (speech act). Dengan tindak tutur, penutur dan mitra tutur dapat mengembangkan pola komunikasi dalam mencapai efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, penutur dan mitra tutur perlu memperhatikan perilaku bertuturnya, baik yang berkaitan dengan aspek-aspek kerja sama maupun kesantunan. Penerapan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan pada proses belajar-mengajar menuntut kemampuan guru dalam memilih dan mengkombinasikan keduanya agar sesuai dan dapat membantu mencapai efektivitas belajar. Prinsip kerja sama cenderung mengarah pada pencapaian efektivitas penyampaian pesan, sedangkan kesantunan mengarah pada upaya-upaya memelihara hubungan sosial dan personal dalam proses komunikasi.









BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian tersebut, dapat dirumuskan simpulan sebagai berikut. (a) Siswa sebagai suatu masyarakat tutur dalam percakapan di kelas mempunyai bentuk refresentatif, komisip, direktif, ekpresif dan deklaratif yang diwujudkan dengan piranti linguistik bervariasi untuk membedakan hubungan sosial mereka. (b) Siswa sebagai suatu masyarakat tutur dalam percakapan di kelas mempunyai fungsi refresentatif, komisip, direktif, ekpresif dan deklaratif bervariasi dan mempunyai piranti linguistik dengan variasi tersendiri untuk mengekspresikan masing-masing fungsi tindak tutur tersebut. (c) Siswa juga sebagai suatu masyarakat tutur dalam percakapan di kelas menggunakan prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan yang diwujudkan dengan piranti linguistik untuk mengekspresikan fungsi-fungsi refresentatif, komisif, direktif, ekpresif dan deklaratif mereka dengan gaya kontekstual berbeda-beda.
Sesuai dengan hasil penelitian tersebut, disarankan hal-hal sebagai berikut. Bagi guru, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan untuk merancang aktivitas belajar mengajar yang dapat menumbuhkan dan memelihara motivasi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal. Bagi kepala sekolah, temuan penelitian ini dapat memberi masukan untuk merencanakan dan menciptakan suasana pendidikan dan pengajaran yang kondusif di sekolah yang dipimpinnya. Bagi peneliti berikutnya, dalam rangka replikasi, jangkauan penelitian ini dapat diperluas.  



DAFTAR PUSTAKA
-          Chaer, Abdul&Leonie Agustina (1995), Sosiolinguistik perkenalan awal,  
           Jakarta,Rineka Cipta
-          nGrice,H.P, 1975, Logic and Coversation, Syntax and semantic, speech act,3,New
-            York: Academic Press

-          Hymes, Dell (ed) 1964,Language in Culture and Society, New York:Harper and
Row
-          Halliday,M.A.K 1986 , The users and uses of language,dalam Fshman (ed) 1968
-          Leech,G.N (1983),Principle of Pragmatic, New York : Longman

-          Levinson, Stephen C,1983, Pragmatic, London: Cambridge University Press

-          Serlee,J.R 1969, Speech Act,London : Cambridge University Press

-          http://jasminealmaghribi.blogspot.com/2010/02/prinsip-kerja-sama-n-kesantunan.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar